Sunday, 25 March 2012

Penjernihan Air Menggunakan Biji Kelor (Tugas Fisika 2)

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Air merupakan sumber kehidupan dan kebutuhan manusia, segala aktifitas dapat berjalan dengan baik apabila kebutuhan akan air bersih telah terpenuhi bagi kebutuhan masyarakat, untuk itu diperlukan adanya sumber dan penyediaan air  bersih bagi masyarakat, sehingga aktifitas pun dapat berjalan dengan semestinya. Namun, seiring berkembangnya zaman, maka kebutuhan akan air bersih punsemakin tinggi, sedangkan sumber air yang ada sudah tidak mampu lagi untuk menyuplai bagi kebutuhan masyarakat yang jumlahnya terus bertambah.Sumber air bersih yang kini sulit diperoleh tersebut, memaksa masyarakatuntuk mencari alternatif lain sebagai sumber air sehingga kebutuhan akan air dapat tetap terpenuhi, namun tidak semua sumber air yang diperoleh layak dikonsumsi masyarakat secara langsung, perlu beberapa penanganan khusus untuk menetralkan atau menjernihkan sumber air tersebut hingga layak dimanfatkaan masyarakat Air payau merupakan salah satu sumber air yang tidak dapat dimanfaatkan secara langsung untuk keperluan sehari-hari, untuk itu diperlukanadanya suatu pengolahan sumber air tersebut agar dapat dimanfaatkan masyarakat. Air payau atau brackish Water adalah air yang mempunyai salinitasantara 0,5 ppt s/d 17 ppt. Sebagai perbandingan, air tawar mempunyai salinitas kurang dari 0,5 ppt dan air minum maksimal 0,2 ppt. Air payau mengandung natrium dan klorida relatif tinggi serta Ca dan Mg yang menyebabkan kesadahan.Hal inilah yang tengah dihadapi oleh masyarakat di sekitar Pusri Borang ProvinsiSumatera Selatan. Sungai Borang yang selama menjadi sumber air bagimasyarakat sekitar telah mengalami intrusi air laut sehingga mengakibatkan masyarakat sekitar kesulitan memperoleh sumber air bersih.Dari penjelasan di atas, diperlukan adanya penyelesaian untuk  permasalahan tersebut, maka dari itu dalam penelitian ini akan dibahas mengenai cara penetralan dan penjernihan sumber air payau, dimana zeolit atau bahan pengganti lainya sebagai bahan penetralan dan biji kelor sebagai bahan penjernihan air. Makalah ini dibuat dalam upaya mensosialisasikan kepada masyarakat Pusri Borang agar dapat dimanfaatkan untuk menanggulangi dilematika krisis sumber air bersih di daerah tersebut



1.2 Rumusan Masalah
berdasarkan latar belakang diatas, maka rumusan masalah dalam penelitian ini, yang akan dibahas adalah sebaagi berikut.
apakah yang dimaksud dengan penyaringan air sederhana?
bagaimana proses pembuatan penyaringan air sederhana sebagai media pemanfaatan air dengan menggunakan biji kelor?
bagaimana teknik penggunaan penyaringan air sederhana?
dapatkah air hasil penyaringan dimanfaatkan untuk kebutuhan sehari-hari?
adakah kerugian yang ditimbulkan dengan penggunaan biji kelor sebagai media penjernihan air?

1.3 Tujuan Penelitian
adapun tujuan yang ingin dicapai dari penelitian ini, adalah sebagai berikut.
untuk mengetahui proses pembuatan penyaringan air sederhana.
untuk mengetahui proses penyaringan air.
untuk mengetahui hasil dan manfaat penyaringan air terhadap air yang disaring.
mengenalkan potensi serbuk biji kelor sebagai penjernih air (biokoagolan) kepada masyarakt sekitar.
mensosialisasikan penggunaan serbuk biji kelor, untuk dikembangkan dan di lanjutkan penggunaannya dalam mengatasi sumber air minum yang tercemar.
memperbaiki kualitas air minum masyarakat setempat.

1.4 Metode Pengumpulan Data
Dalam penyusunan karya tulis ilmiah ini digunakan metode pengumpulan data sebagai berikut:
·         metode kepustakaan
yaitu metode pengumpulan data yang dilakukan dengan cara membaca sumber-sumber tertulis yang berhubungan  dengan kendala Negara berkembang dalam globalisasi.
·         metode wawancara
yaitu metode pengumpulan data yang dilakukan dengan cara mengadakan wawancara dengan nara sumber yang menguasai pokok permasalahan, yang dalam hal ini, sebagai nara sumber adalah B. sundari, S.Pd Guru Mata Pelajaran Biologi di MAN Paiton.
·         metode studi lapangan
yaitu metode pengumpulan data yang dilakukan dengan cara mengadakan pengambilan data dari lokasi langsung atau lapangan.

1.4 Ruang Lingkup Penelitian
Ruang lingkup Penulisan meliputi :
biji kelor yang digunakan sebagai bahan penetral dan penjernihair.
Proses pembuatan alat untuk penetral dan penjerniahn sumber air payau
Pengujian rasa, warna dan bau sumber air yang telah mengalami penetralan dan penjernihan

1.5 Manfaat Penelitian
Sesuai dengan latar belakang masalah dan tujuan penulisan, karya tulis ini diharapkan dapat memberikan informasi kepada pembaca bahwa kita dapat memanfaatkan biji kelor sebagai penjernihan air.

1.6 Sistematika Penelitian
penulisan ini teridri dari lima bab secara sistematika dan berurutan yaitu:
BAB I, PENDAHULUAN
Bab ini menjelaskan tentang latar belakang, rumusan masalah, tujuan penelitian, metode pengumpulan data, ruang lingkup penelitian, manfaat penelitian. Dan sistematika.
BAB II, TINJAUAN PUSTAKA
Bab ini menjelaskan mengenai sifat biji kelor sebagai penjernihan air.
BAB III, METODELOGI PENELITIAN
Bab ini menjelaskan waktu, tempat, alat dan bahan dalam penggunaan biji kelor sebagai media penjernihan air.
BAB IV, HASIL DAN PEMBAHASAN
Bab ini berisi hasil dan pembahasan dari hasil penentralan dan penjerinihan air dengan menggunakan alat dan bahan yangdigunakan untuk penjernihan dan penetralan tersebut.
BAB V, KESIMPULAN DAN SARAN
Bab ini berisi tentang kesimpulan dari analisa pembahasan


BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Sifat-sifat Biji Kelor
Biji buah kelor (Moringan oleifera) mengandung zat aktif rhamnosyloxybenzil isothiocyanate, yang mampu mengadopsi dan menetralisir  partikel-partikel lumpur serta logam yang terkandung dalam air. Penemuan yang telah dikembangkan sejak tahun 1986 di negeri Sudan untuk menjernihkan air dari anak sungai Nil dan tampungan air hujan ini di masa datang dapat dikembangkan sebagai penjernih air Sungai Mahakam dan hasilnya dapat dimanfaatkan oleh PDAM setempat.Serbuk biji buah kelor ternyata cukup ampuh menurunkan dan mengendapkan kandungan unsur logam berat yang cukup tinggi dalam air,shingga air tersebut memenuhi standar baku air minum dan air bersih.Menurut penelitian terhadap sungai Mahakam, kandungan logam besidalam air yang sebelumnya mencapai 3,23mg/l, setelah dibersihkan denganserbuk biji kelor menurun menjadi 0,13mg/l, dan telah memenuhi standar baku mutu air minum, yaitu 0,3 mg/l dan standar mutu air bersih 1,0mg/l. Sedangkan tembaga (Cu) yang semula 1,15mg/l menjadi 0,12mg/l, tealah memenuhi standar  baku mutu air minum dan air bersih yang diperbolehkan, yaitu 1 mg/l, dankandungan logam mangan (Mn) yang semula 0,24 mg/l menjadi 0,04mg/l, telahmemenuhi standar baku mutu air minum dan air bersih 0,1 mg/l dan 0,5 mg/l.Selain itu, berdasrkan hasil uji sifat fisika, kualitas air sungai Mahakamdengan Parameter kekeruhan semula mencapai 146NTU, setelah dibersihkandengan serbuk biji kelor menurun menjadi 7,75 NTU, atau memenuhi standar  baku air bersih yang ditetapkan, yaitu 25 NTU. Untuk parameter warna yangsemula sebesar 233 Pt.Co menjadi 13,75 Pt.Co, atau telah memenuhi standar bakumutu air minum dan air bersih 15 Pt.Co dan 50 Pt.Co. Namun apabila air tersebut dikonsumsi untuk diminum, aroma kelor yangkhas masih terasa, oleh sebab itu, pada bak penampungan air harus ditambahkanarang. Arang berfungsi untuk menyerap aroma kelor tersebut.


BAB III
METODELOGI PENELITIAN
3.1 Waktu dan Tempat
waktu pelaksaan penelitian di mulai pada tanggal 30 Mei 2011-8 Juni 2011 dan uji coba dilakukan di Kediaman Penulis, sidodadi kecamatan Paiton Probolinggo.

3.2 Alat dan Bahan
  1. Biji kelor yang sudah tua dan kering. 
  2. Kain secukupnya 
  3. Timba 1 buah  
  4. Pengaduk




BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Air dan Cara Mengolahnya
Air beserta sumber-sumbernya merupakan salah satu kekayaan alam yang mutlak dibutuhkan oleh mahluk hidup guna menopang kelangsungan hidupnya dan memelihara kesehatannya. Air yang mengisi lebih dari dua pertiga bagian dari seluruh permukaan bumi, memberi tempat hidup yang 300 kali lebih luas dari pada daratan, akan tetapi sebagian besar dari air tersebut tidak dapat langsung digunakan untuk kepentingan mahluk hidup. Hanya 1% yang merupakan air manfaat yang dapat dipergunakan sebagai air bersih, untuk menjadi air bersih / air minum harus mengalami suatu Teknologi.
Teknologi yang diterapkan mulai dari pengambilan air baku, pengolahan air untuk menjadi air bersih yang sangat tergantung kualitas sumber air baku, kemudian melaui system distribusi melalui perpipaan ke area pelayanan.
Pengolahan Air dilakukan pada air baku yang pada hakekatnya tidak memenuhi standar kualitas air minum/bersih yang berlaku, sehingga unsur-unsur yang tidak memenuhi standar perlu dihilangkan ataupun dikurangi, agar seluruh air memenuhi standar yang berlaku. Hal ini dilaksanakan dengan pengolahan air. Teknologi untuk pengolahan air yang sangat tergantung dari sumber air baku dengan kualitas air yang bermacam-macam untuk dapat diolah.
Pusat-pusat pengolahan air perkotaan atau municipal water treatment dengan skala besar mengolah air dengan cara menambahkan senyawa kimia penggumpal (coagulants) ke dalam air kotor yang akan diolah. Dengan cara tersebut partikel-partikel yang berada di dalam air akan menjadi suatu gumpalan yang lebih besar lalu me- ngendap. Baru kemudian air di bagian atas yang bersih dipisahkan untuk digunakan keperluan sehari-hari. Namun demikian, zat kimia penggumpal yang baik tidak mudah dijumpai di berbagai daerah terpencil. Andaipun ada pasti harganya tidak terjangkau oleh masyarakat setempat.
Salah satu air yang dikonsumsi warga pada umumnya adalah air sungai . Namun , sungai-sungai tersebut tak sepenuhnya layak untuk dikonsumsi . Tidak sedikit sungai yang tercemar oleh limbah industri sehingga komposisi dan kandungan air sungai tersebut dapat membahayakan kesehatan mereka yang mengkonsumsinya . Ini patut dicegah . Mengapa ? Karena jika warga terus-menerus menggunakan air sungai keruh ini , dikhawatirkan dapat menurunkan tingkat kesehatan warga . Jika tingkat kesehatan warga menurun , hal ini juga dapat meningkatkan tingkat kematian warga . Ini dapat menunjukkan bahwa indeks kesehatan warga masih sangat rendah .
Salah satu alternatif yang tersedia secara lokal adalah penggunaan koagulan alami dari tanaman yang barangkali dapat diperoleh di sekitar kita. Penelitian dari The Environmental Engineering Group di Universitas Leicester, Inggris, telah lama mempelajari potensi penggunaan berbagai koagulan alami dalam proses pengolahan air skala kecil, menengah, dan besar.Penelitian mereka dipusatkan terhadap potensi koagulan dari tepung biji tanaman Moringa oleifera. Tanaman tersebut banyak tumbuh di India bagian utara, tetapi sekarang sudah menyebar ke mana-mana ke seluruh kawasan tropis, termasuk Indonesia. Di Indonesia tanaman tersebut dikenal sebagai tanaman kelor dengan daun yang kecil-kecil.

4.2 Tanaman Kelor
Nama umum
Indonesia: Kelor, limaran (Jawa)
Inggris : Moringa, ben-oil tree, clarifier tree, drumstick tree
Melayu : kalor, merunggai, sajina
Vietnam : Chùm ngây
Thailand : ma-rum
Pilipina : Malunggay

Kelor
Klasifikasi
Kingdom: Plantae (Tumbuhan)
Subkingdom: Tracheobionta (Tumbuhan berpembuluh)
Super Divisi: Spermatophyta (Menghasilkan biji)
Divisi: Magnoliophyta (Tumbuhan berbunga)
Kelas: Magnoliopsida (berkeping dua / dikotil)
Sub Kelas: Dilleniidae
Ordo: Capparales
Famili: Moringaceae
Genus: Moringa
Spesies: Moringa oleifera
Kelor atau Moringa oleifera memiliki sinonim Moringa pterygosperma , Gaertn .Tumbuhan Kelor memiliki bermacam-macam nama lokal di Indonesia , tergantug daerah masing-masing . Nama lokal itu antara lain Kelor untuk daerah Jawa , Sunda , Bali dan Lampung ; Kerol untuk daerah Buru ; Marangghi untuk daerah Madura ; Moltong untuk daerah Flores ; Kelo untuk daerah Gorontalo ; Keloro untuk daerah Bugis ; Kawano untuk daerah Sumba ; Ongge untuk daerah Bima dan Hau Fo untuk daerah Timor . Kelor juga disebut sebagai tanaman “drumstick” karena bentuk polong buahnya yang memanjang yag mirip dengan stik drum . Ada juga yang menyebutnya dengan “horseradish” karena rasa akarnya menyerupai rasa radish .
Kelor (moringa oliefera) termasuk jenis tumbuhan perdu yang dapat memiliki ketingginan batang 7 -11 meter. Di Jawa, Kelor sering dimanfaatkan sebagai tanaman pagar karena berkhasiat untuk obat-obatan. Pohon Kelor tidak terlalu besar. Batang kayunya getas (mudah patah) dan cabangnya jarang tetapi mempunyai akar yang kuat. Batang pokoknya berwarna kelabu. Daunnya berbentuk bulat telur dengan ukuran kecil-kecil bersusun majemuk dalam satu tangkai.
Kelor dapat berkembang biak dengan baik pada daerah yang mempunyai ketinggian tanah 300-500 meter di atas permukaan laut. Bunganya berwarna putih kekuning kuningan dan tudung pelepah bunganya berwarna hijau. Bunga kelor keluar sepanjang tahun dengan aroma bau semerbak. Buah kelor berbentuk segi tiga memanjang yang disebut klentang (Jawa). Buahnya pula berbentuk kekacang panjang berwarna hijau dan keras serta berukuran 120 cm panjang. Sedang getahnya yang telah berubah warna menjadi coklat disebut blendok (Jawa).
Budidaya tanaman Moringa atau kelor memerlukan pemeliharaan yang sangat minimal dan dapat tahan pada musim kering yang panjang. Cepat tumbuh sampai ketinggian 4-10 meter, berbunga, dan menghasilkan buah hanya dalam waktu 1 tahun sejak ditanam. Tanaman tersebut tumbuh cepat baik dari biji maupun dari stek, bahkan bila ia ditanam di lahan yang gersang yang tidak subur. Sehingga baik bila dikembangkan di lahan-lahan kritis yang mengalami musim kekeringan yang panjang.
Meskipun begitu , tanaman moringa juga dapat tumbuh di daerah berhawa sejuk seperti perbukitan , kaki gunung , lereng gunung , maupun di daerah pegunungan . Apalagi jika di daerah dataran tinggi masih terdapat gunung yang aktif , itu dapat menyuburkan tanah yang dapat membantu mempercepat pertumbuhan dan perkembangan tanaman moringa / kelor walaupun tidak sebagus dan tidak secepat mengembang biakkannya di kawasan gersang dan lahan kritis karena tanaman moringa merupakan salah satu tanaman yang mampu berkembang di daerah kritis seperti di daerah Madura , Nusa Tenggara , Maluku , dan Irian Jaya . Tanaman ini juga cocok dikembangkan di lahan kritis bekas penggundulan hutan seperti di Sumatera dan Kalimantan .
Menurunnya budidaya kelor di perkotaan merupakan dampak negatif dari globalisasi yang sedang berkembang pesat di zaman modern ini . Sebagai contoh , tanaman moringa untuk bahan makanan ( sayur ) sudah kurang diminati masyarakat , terutama masyarakat yang berdomisili di daerah perkotaan . Mengapa ? Masyarakat sudah merasa nyaman dengan mengkonsumsi makanan serba instant yang merupakan produk dari pabrikan yang mengandung bahan kimia .
Namun ternyata konsumsi kelor di daerah pedesaan masih cukup tinggi , karena masyarakat pedesaan kurang mengenal masakan dan makanan dari pabrikan . Mereka cenderung selektif saat memilih makanan yang akan mereka konsumsi . Mereka lebih memilih makanan yang higienis , menyehatkan dan berguna bagi tubuh mereka , seperti kelor yang didalam daunnya mengandung zat besi yang berguna untuk memproduksi hemoglobin . Ini penting bagi mereka yang tinggal di pegunungan untuk mengikat lebih banyak oksigen karena kadar oksigen di pegunungan rendah .
Selain itu , masyarakat awam juga belum mengetahui manfaat kelor yang semakin meluas . Karena ketidaktahuan inilah masyarakat masih berfikir stagnan , bahwa kelor yang bisa dimanfaatkan hanya daun sebagai bahan pangan dan sayur serta akarnya sebagai bahan pembuat obat-obatan , baik kimiawi maupun herbal .
Pengetahuan masyarakat yang minim ini perlu didorong oleh adanya penyuluhan tentang pemanfaatan tanaman kelor yang masih memiliki banyak manfaat selain digunakan untuk bahan pangan dan obat-obatan . Pengembangan ini juga membutuhkan waktu dan biayan yang tidak sedikit . Oleh karena masalah keuangan itulah yang membuat masyarakat dan pemerintah setempat enggan memperluas wawasan tentang manfaat tanaman kelor yang sebenarnya . Padahal , jika masyarakat mengetahui manfaat kelor yang sangat berlimpah , mereka pasti lebih memilih penggunaan tekhnologi herbal daripada menggunakan tekhnologi modern yang begitu rumit dan mahal .
Hingga saat ini , para ilmuwan masih menyelidiki dengan melakukan berbagai macam eksperimen untuk menguak berbagai manfaat dari kelor . Tentunya membutuhkan waktu yang lama dan kerja yang cukup keras untuk menemukan manfaat kelor yang selanjutnya . Ini dalam proses penelitian dan belum dapat dipublikasikan secara luas karena belum diadakan eksperimen lanjutan untuk menguji manfaat kelor selanjutnya .
Tanaman Kelor yang dibudidayakan di Indonesia masih digunakan untuk memenuhi kebutuhan akan obat-obatan dan digunakan untuk sayur . Namun , di Indonesia , kini dikembangkan tekhnologi tepat guna dengan penggunaan bahan tanaman kelor , yakni menggunakan bagian tubuh tumbuhan kelor , yakni bijinya . Biji tanaman kelor digunakan karena dianggap lebih mampu dalam menyaring dan mengolah air dari air yang keruh dan mengandung banyak mikroba berbahaya menjadi air dengan kualitas yang tidak kalah dengan kualitas pabrik . Mengapa bisa ? Penjernihan air dengan biji kelor (Moringa Oleifera) dapat dikatakan penjernihan air dengan bahan kimia, karena tumbukan halus biji kelor dapat menyebabkan terjadinya gumpalan (koagulan) pada kotoran yang terkandung dalam air.
Cara penjernihan ini sangat mudah dan dapat digunakan di daerah pedesaan yang banyak tumbuh pohon kelor .
Kami mengambil nama Bike Magic untuk alat tekhnologi yang kami bahas dalam karya tulis ilmiah ini . Tapi , bukan berarti alat ini merupakan sepeda ajaib seperti jika diterjemahkan dari bahasa inggris ke bahasa Indonesia . Namun Bike magic merupakan sebuah singkatan dari alat tekhnologi yang kami bahas . Singkatan dari Bike Magic Sebagai Penjernih Air Berbasis Darling adalah :
-Bi yaitu Biji
-Ke yaitu kelor
-Magic yang berarti ajaib
- Dar yaitu sadar
- Ling yaitu lingkungan
Nama ini kami pilih karena nama Bike Magic dan Darling sesuai dengan apa yang kami bahas dalam karya tulis ilmiah kami ini . Nama ini berarti biji kelor ajaib . Bukan karena sulap atau adanya rekayasa terhadap biji kelor , tapi karena kemampuan biji sekecil ini yang mampu menyaring air kotor yang mengandung mikroba berbahaya menjadi air yang jernih bahkan siap minum . Bahkan air dapat mendidih lebih cepat jika setelah mengalami filtrasi oleh Bike Magic dan dilakukan perebusan . Ini dikarenakan zat berbahaya dan kuman sudah diminimalisir melalui proses filtrasi air Bike Magic .
Nama Darling juga kami ambil bukan berarti sayang . Namun dalam garis besar artinya sesuai dengan arti sebenarnya . Arti Darling disini berarti Sadar Lingkungan yang berarti kita disuruh menyayangi dan sadar akan kelestarian lingkungan. Bike Magic tidak menggunakan bahan kimia maupun senyawa kimia lainnya . Nama ini kami ambil karena kami sendiri dan teman sebagai warga internasional yang berakal sehat sadar akan kelestarian lingkungan yang mulai tak terurus lagi . Bike Magic juga dapat menghemat bahan bakar dan mengurangi adanya efek rumah kaca ( green house ) dan pemanasan global ( global warming )
Bike magic ini masih sangat jarang digunakan maupun diterapkan dalam kehidupan sehari-hari . Ini karena masyarakat kurang tahu dan sepertinya tidak mau tahu dengan pemanfaatan biji kelor sebagai penyaring air ini . Masyarakat rupanya masih beranggapan bahwa tanaman kelor yang bisa dimanfaatkan hanya daunnya sebagai sayur dan akarnya sebagai bahan obat-obatan .
Padahal jika masyarakat mengetahui akan penemuan tekhnologi ini , tentu masyarakat akan lebih mudah mendapatkan air bersih , baik untuk mencuci , memasak maupun mandi . Ini dikarenakan Bike Magic tidak memerlukan proses perebusan karena air yang dihasilkan dapat langsung dikonsumsi oleh masyarakat .
Bike magic hanya menggunakan bahan biji kelor yang sudah tua betul dan sufah kering . Ini dikarenakan biji kelor yang sudah tua betul dan sudah kering mudah untuk ditumbuk menjadi halus . Ini karena kadar air dalam biji kelor sudah menipis dan menghilang . Jika biji yang digunakan adalah biji basah dan masih muda , ini menyulitkan pemrosesan penumbukan karena kadar air dalam biji kelor masih tinggi . Jika kadar air tinggi , proses penumbukan untuk menghasilkan biji yang halus sangat sulit , namun jika yang digunakan adalah biji yang sudah tua dan kering , maka proses penumbukan untuk menghasilkan biji kelor yang halus tentu juga mudah . Bike magic juga berguna bagi masyarakat karena biaya yang dibutuhkan juga murah . Ini sangat sesuai dengan kondisi ekonomi masyarakat Indonesia yang merupakan Negara berkembang . Memang , Tekhnologi tepat guna memang ditujukan untuk masyarakat Negara berkembang dengan kondisi ekonomi menengah ke bawah . Faktor lainnya adalah di negara berkembang masyarakatnya masih kurang dapat alih tekhnologi modern .
Campur tangan tekhnologi modern kadang kala juga memberikan efek penggunaan bahan kimia yang tentu erbahaya jika masuk ke dalam tubuh . Namun , meskipun biji kelor juga mengandung senyawa kimia yang berfungsi sebagai koagulan , senyawa ini fungsinya bukan untuk meracuni tubuh , namun berfungsi untuk menggumpalkan kotoran yang terkandung dalam air yang akan disaring .
Bike Magic dapat pula digunakan untuk menyaring air sungai da air sumur yang kadang mengandung kapur dan logam berat . Logam berat itu akan dikoagulasikan oleh serbuk biji kelor yang telah ditumbuk dan dihaluskan untuk digumpalkan . Setelah itu kotoran diendapkan didasar botol atau gelas . Setelah menunggu kurang lebih selama 1 jam , air sudah dapat dikonsumsi , namun dengan penyaringan menggunakan pasir secara sederhana terlebih dahulu untuk mendapatkan hasil air yang benar-benar dapat dikonsumsi oleh tubuh .
Jika kita perhatikan , penyaringan air menggunakan bahan kimia tidak memang dapat menghilangkan senyawa kimia berbahaya yang ada di dalam air . Namun , meskipun hilang , kedudukan bahan kimia itu digantikan oleh bahan kimia yang digunakan untuk menyaring air tadi . Sehingga , meskipun hilang , bahan kimia tetap ada di dalam air , meskipun tingkat bahayanya untuk tubuh menurun . Namun , kandungan kimia toh masih ada didalam tubuh lewat penyaringan air , meskipun dalam prosentase kecil .

4.3 Proses Penjernihan
Cara 1 :
1.      Biji kelor dibiarkan sampai matang atau tua di pohon dan baru dipanen setelah kering. Sayap bijinya yang ringan serta kulit bijinya mudah dipisahkan sehingga meninggalkan biji yang putih. Bila terlalu kering di pohon, polong biji akan pecah dan bijinya dapat melayang “terbang” ke mana-mana.
2.      Biji tak berkulit tersebut kemudian dihancurkan dan ditumbuk sampai halus sehingga dapat dihasilkan bubuk biji Moringa
3.      Jumlah bubuk biji moringa atau kelor yang diperlukan untuk pembersihan air bagi keperluan rumah tangga sangat tergantung pada seberapa jauh kotoran yang terdapat di dalamny
4.      Untuk menangani air sebanyak 20 liter (1 jeriken), diperlukan jumlah bubuk biji kelor 2 gram atau kira-kira 2 sendok teh (5 ml).
5.      Tambahkan sedikit air bersih ke dalam bubuk biji sehingga menjadi pasta
6.      Letakkan pasta tersebut ke dalam botol yang bersih
7.      Tambahkan ke dalamnya satu cup (200 ml) lagi air bersih
8.      Lalu kocok selama lima menit hingga campur sempurna. Dengan cara tersebut, terjadilah proses aktivitasi senyawa kimia yang terdapat dalam bubuk biji kelor.
9.      Saringlah larutan yang telah tercampur dengan koagulan biji kelor tersebut melalui kain kasa

10. Masukkan filtratnya ke dalam air 20 liter (jeriken) yang telah disiapkan sebelumnya
11. kemudian diaduk secara pelan-pelan selama 10-15 menit.
12. Selama pengadukan, butiran biji yang telah dilarutkan akan mengikat dan menggumpalkan partikel-partikel padatan dalam air beserta mikroba dan kuman-kuman penyakit yang terdapat di dalamnya sehingga membentuk gumpalan yang lebih besar yang akan mudah tenggelam mengendap ke dasar air
13. Diamkan dan biarkan selama kurang lebih 1 jam
14. Setelah satu jam, air bersihnya dapat diisap keluar untuk keperluan keluarga.

Cara 2 :
1.      Kupas biji kelor dan bersihkan kulitnya.
2.      Biji yang sudah bersih dibungkus dengan kain, kemudian ditumbuk sampai halus betul. Penumbukan yang kurang halus dapat menyebabkan kurang
sempurnanya proses penggumpalan.
3.      Campur tumbukkan biji kelor dengan air keruh dengan perbandingan 1 biji : 1 lt air keruh.
4.      Campur tumbukkan biji kelor dengan sedikit air sampai berbentuk pasta.
Masukkan pasta biji kelor ke dalam air kemudian diaduk.
5.      Aduklah secara cepat 30 detik, dengan kecepatan 55-60 putaran/menit.
6.      Kemudian aduk lagi secara berlahan dan beraturan selama 5 menit dengan kecepatan 15-20 putaran/menit.
7.      Setelah dilakukan pengadukan, air diendapkan selama 1-2 jam. Makin lama waktu pengendapan makin jernih air yang diperoleh.
8.      Pisahkan air yang jernih dari endapan. Pemisahan harus dilakukan dengan hati-hati agar endapan tidak naik lagi.
9.      Pada dasar bak pengendapan diberi kran yang dapat dibuka, sehingga endapan dapat dikeluarkan bersama-sama dengan air kotor


Terserah pada pembaca dan masyarakat untuk menggunakan cara yang mana yang lebih efektif dan efisien . Kami hanya memberikan solusi yang paling baik . Dan bagi kami yang lebih penting adalah pemaca dan masyarakat pada umumnya adalah dapat menggunakan dan menerapkan Bike Magic dalam kehidupan sehari-hari dengan sebaik-baiknya dan dapat mengembangkan lagi ke masyarakat yang lebih luas atau setidaknya mengembangkan tekhnologi ini menjadi yang lebih baik dan dapat bermanfaat bagi masyarakat . Cara-cara itu kami ambil karena kami rasa kedua cara itu adalah cara yang paling simple dan efektif untuk diterapkan pada masyarakat



4.4 Efisiensi Proses
Proses penjernihan air menggunakan bahan biji moringa / biji kelor ini sangat efektif dan efisien . Efektif karena mudah dalam segi pemakaian dan menggunakan waktu yang relatif lebih singkat daripada menggunakan biji tumbuhan lain , seperti biji padi maupun jagung . Ini karena tumbukan halus biji kelor dapat menyebabkan terjadinya gumpalan (koagulan) pada kotoran yang terkandung di dalam air . Cara penjernihan ini sangat mudah dan dapat digunakan di daerah pedesaan yang banyak tumbuh pohon kelor .
Jika dikembangkan di daerah perkotaan mungkin sedikit sulit , apalagi kelor adalah tumbuhan xerofit yang mampu tumbuh di tempat kering , namun tidak seperti kaktus . Tempat kering yang dimaksud adalah tempat dengan curah hujan minim setiap tahunnya . Jika dikembangkan di perkotaan harus menggunakan system hidroponik yakni menanam dan membiakkan tumbuhan dengan media tanpa tanah . Medianya bisa berupa arang , batu dan lain sebagainya . Cara ini memang sebaiknya dikembangkan di kota besar yang minim akan kebutuhan air bersih .
Proses pembersihan tersebut menurut hasil penelitian yang telah dilaporkan mampu memproduksi bakteri secara luar biasa, yaitu sebanyak 90-99,9% yang melekat pada partikel- partikel padat, sekaligus menjernihkan air, yang relatif aman (untuk kondisi serba keterbatasan) serta dapat digunakan sebagai air minum masyarakat setempat.
Namun demikian, beberapa mikroba patogen masih ada peluang tetap berada di dalam air yang tidak sempat terendapkan, khususnya bila air awalnya telah tercemar secara berat. Idealnya bagi kebutuhan air minum yang pantas, pemurnian lebih lanjut masih perlu dilakukan, baik dengan cara memasak atau dengan penyaringan dengan cara filtrasi pasir yang sederhana.

4.5 Keunggulan dan Kelemahan
KeunggulanØ
1.      Caranya sangat mudah ,
2.      Tidak berbahaya bagi kesehatan ,
3.      Dapat menjernihkan air lumpur, maupun air keruh (keputih-putihan, kekuning-kuningan atau ke abu-abuan) , dan
4.      Kualitas air lebih baik , karena :
a. Kuman berkurang ,
b. Zat organik berkurang sehingga pencemaran kembali berkurang , dan
c. Air lebih cepat mendidih ,
5.      Produk yang dihasilkan bersifat back to nature yang ramah akan lingkungan dan dapat mengurangi pemanasan global.


 Kelemahan
Ø
1.      Kelor tidak terdapat disemua daerah ,
2.      Air hasil penjernihan dengan kelor harus segera digunakan dan tidak dapat disimpan untuk hari berikutnya ,
3.      Penjernihan dengan cara ini hanya untuk skala kecil , dan
4.      Air hasil filtrasi dengan Bike Magic masih perlu pemurnian lebih lanjut , baik dengan cara memasak atau dengan penyaringan dengan cara filtrasi pasir yang sederhana


BAB V
PENUTUP
5.1 Kesimpulan
Dari berbagai uraian pembahasan diatas dapat kita tarik kesimpulan bahwa Pengolahan air bersih didasarkan pada sifat-sifat koloid, yaitu koagulasi dan adsorbs. Dengan Proses yang diterapkan dalam system pengolahan air bersih antara lain: Proses penampungan , Proses oksidasi , Proses pengendapan , Proses filtrasi , Proses terakhir adalah proses pembunuhan bakteri yang bertujuan untuk menghilangkan zat pengotor atau untuk memperoleh air yang kualitasnya memenuhi standar persyaratan kualitas air.

5.2 Saran
Seperti yang kita ketahui bersama bahwa begitu pentingnya air dalam kehidupan sehingga kami menyarankan kepada para pembaca agar tidak melakukan pencemaran dan selalu menjaga kelestarian lingkungan air.



DAFTAR PUSTAKA
Anonim. 2009. Kumpulan Teknik Penyaringan Air. http://www.airnyaya.co.id/
Diakses tanggal 20 April 2011.
Anonim, 2010. Berbagai Tekhnik Penyaringan.http://aimyaya.com/id/teknologi-tepat-guna/kumpulan-teknik-penyaringan-air/. Diakses tanggal 23 April 2011.
Anonim.2011.MenjernihkanAirkotor.http://bahankuliahkesehatan.blogspot.com/2011/03/makalah-tentang-menjernihkan-air-kotor.html. di akses tanggal 25 April 2011.
 Buku Panduan Air dan Sanitasi, Pusat Informasi Wanita dalamPembangunan PDII-LIPI bekerjasama dengan Swiss DevelopmentCooperation. Jakarta.
Al Azharia Jahn, Samia. Traditional Water Purification in Tropical Developing
Countries : Existing Methods and Potential Application. Eschborn : GTZ, 1981

1 comments:

Obat Sirosis Hati Alami said...

sangat membantu sekali, terimakasih banyak...

UbaidRahman